Showing posts with label Perkutut. Show all posts
Showing posts with label Perkutut. Show all posts

Wednesday, October 2, 2013

BURUNG PERKUTUT (Si anggun bersuara merdu)



Banyak orang memelihara perkutut antara lain karena sosok tubuhnya, keindahan bulu dan suaranya, bahkan ada yang percaya dengan kekuatan magis yang dipunyai burung ini.

Pada jaman dulu burung perkutut banyak dipelihara kaum bangsawan, bahkan raja - raja memperlakukan burung ini sebagai binatang kesayangan atau klangenan.




Konon burung ini bisa membawa rejeki dan menimbulkan ketenteraman bagi pemiliknya, maka wajar jika burung ini sangat digemari.

Masyarakat tradisional Jawa dahulu menempatkan arti perkutut ini sejajar dengan kebutuhan hidup. Pada saat itu ada 5 hal yang melambangkan status sosial, yaitu: wanita (isteri), wisma (rumah), curiga (keris), turangga (kuda) dan kukila (burung perkutut). Kelekatan perkutut pada masyarakat tradisional Jawa bahakan diungkapkan dalam tembang "Kutut Manggung", yang sampai saat ini masih digemari.

Yang jelas burung perkutut mempunyai warna yang indah, bersuara merdu dan berbentuk ramping lincah, hingga nampak anggun walau tampil sederhana. Beberapa kelehihan burung inilah yang mendasari dipilihnya satwa ini sebagai ciri khas fauna Daerah Istimewa Yogyakarta.


CIRI - CIRI
Burung penyanyi berukuran kecil ini termasuk satu suku dengan burung Merpati. Panjangnya antara 20-25 cm dengan kepala bulat kecil berwarna abu - abu. Paruhnya panjang meruncing berwarna kebiru - biruan, sedang lehernya relatif panjang ditumbuhi bulu - bulu halus, yang pada sekitar leher dan dada membentuk pola garis melintang berwarna hitam dan putih. Bulu - bulu tubuhnya berwarna kecoklatan sewarna dengan bulu ekornya yang tumbuh memanjang. Pada bulu sayapnya terdapat garis melintang warna coklat tua, sedang pada kulit kakinya yang berwarna merah tumbuh sisik berwarna kehitaman. Jari kakinya yang berkuku runcing berjumlah empat, dengan posisi tiga depan dan satu di belakang, yang digunakan untuk bertengger.

HABITAT DAN MAKANAN
Pada umumnya burung perkutut hidup berpasangan, walaupun kadang - kadang juga nampak bergerombol. Burung ini amat menyukai tempat terbuka, misalnya kebun, tegal, padang rumput, bahkan di halaman bangunan yang terletak di dekat hutan.

Makanannya terdiri dari biji bijian, seperti : padi, jagung, jawawut, dan lain sebagainya. Burung perkutut liar umumnya berkembang biak sekitar bulan Januari hingga bulan September, ditandai dengan pembuatan sarang yang dibuat bersama pasangannya. Sarang perkutut terdiri dari ranting - ranting kering, berbentuk datar dan tipis dan biasa diletakkan di antara semak - semak atau di dahan pohon yang tidak terlalu tinggi.

Selain hidup secara liar, burung perkutut sudah banyak dibudidayakan. Pembudidayaannya sering dilaksanakan dengan cara persilangan agar mendapatkan bibit unggul yang tangguh.

Perkutut umumnya bertelur dua butir yang berbentuk oval dengan warna putih. Telur tersebut dierami secara bergaintian, yang jantan pada siang hari sedang yang betina sebaliknya. Kira - kira dua minggu telur akan menetas, berupa anak perkutut tanpa bulu, berkepala besar dengan mata tertutup, yang biasa disebut dengan nama piyik.

Sebagai burung klangenan penggemar burung perkutut ini tidak terbatas pada kalangan tertentu saja, sebab burung ini telah menjadi barang komoditi yang cukup ramai pasarannya. Dalam rangka menaikkan nilai jual burung inilah kini lomba perkutut sering dilaksanakan di kota - kota bahkan desa.

 Anda tertarik untuk membudidayakannya...???

Tuesday, April 2, 2013

Cara Memilih Burung Perkutut Yang Baik


Memilih Bakalan Perkutut Yang Berkualitas | Cara Membedakan Perkutut Jantan Dan Betina - Dalam memilih bakalan burung perkutut yang bagus perlu dilakukan dengan cermat dan teliti. Untuk mendapatkan burung perkutut yang mampu berkicau dengan baik tentu harus dipilih yang jantan. Perbedaan kelamin jantan-betina pada perkutut muda, bisa diketahui dengan merabah supitnya (tulang yang terletak di bawah dubur dan di antara pangkal paha). Caranya tubuh burung dipegang dengan tangan kiri, lalu diraba tulang supitnya dengan telunjuk kanan atau ibu jari.kalau bagian supit itu terasa sempit dan keras, tak diragukan lagi, pasti burung jantan kalau terasa renggang dan empuk, pasti burung betina. selain itu bentuk kepala burung jantan umumnya agak besar, lonjong memanjang, dan betinanya kecil agak membulat.


Mendapatkan burung jantan saja belum cukup. Untuk mendapatkan calon penyanyi yang baik masih diperlukan sejumlah persyaratan. Untuk memperoleh bakalan perkutut yang berkualitas pilihlah yang mempunyai tanda-tandanya sebagai berikut :
  • Kepala - Bentuk agak lonjong memanjang (oval melancip seperti buah pinang muda) matanya bersinar ceriah, terang (warna biru muda atau coklat muda), titik hitam pada bola mata besar, bening. paruh tebal, kukuh, tidak terlalu panjang. lubang hidungnya menonjol tinggi ke atas,lubang hidungnya yang lebar tertutup/terlindungi sayap hidung, bersih
  • Leher - Bentuk leher panjang, bagus, tegak lurus dengan posisi kepala yang terangkat seperti dongaknya ular kobra. pangkal leher mengembang, yang merupakan kantong suara.
  • Badan - Dada bidang, punggung agak bungkuk, dan warna lorek-lorek pada bulu badan lembut kulit ketiak lemas, tidak tegang. bulu sayap panjang.bulu sayap yang pertama besar-besar tiap sayap terdiri dari 21 sampai 25 lembar bulu. perkutut yang sudah bunyi sayapnya nglengsreh. bodi badan singset.
  • Kaki - Sikap berdirinya sangat kokoh, mantap, dengan capit udang (tulang paha)kanan kiri merapat. jari kaki panjang. sisik kaki kasar, tersusun rapih di bawahdan pada sisik akhir ditutup dengan sebuah sisik besar. warna sisik agak kemerahan,kehitaman, pada telapak kaki bertitik putih.
  • Ekor - Bulu ekor panjang dan mengumpul, makin ke ujung makin mengecil.tombol ekor alias brutu besar, tinggi meruncing dan mendongak ke depan.


Tuesday, March 26, 2013

Mengenal Burung Perkutut


Burung Perkutut merupakan salah satu burung yang memiliki suara khas dan banyak di gemari oleh para pecinta burung di Indonesia. Perkutut adalah termasuk burung yang hidup secara berkelompok dan berpasang-pasangan dan mencari makan di area ladang atau persawahan. Makanan burung perkutut adalah biji-bijian.


Di Indonesia jenis perkutut cukup banyak. Penghobi membedakan perkutut yang ada sesuai dengan daerah asalnya, misalnya perkutut Sumatera, perkutut Jawa, perkutut Bali, dan perkutut Nusa Tenggara. Khusus untuk di Jawa, masih dibedakan lagi sesuai dengan asal daerah yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil perkutut berkualitas, misalnya perkutut Pajajaran, perkutut Mataram, perkutut Majapahit, perkutut Tuban, dan perkutut Madura.

Di alam bebas perkembang biakan perkutut tidak sebaik di breeding farm. Di alam bebas perkutut hanya bertelur dua sampai tiga kali setahun yang terjadi pada bulan Januari-September. Musim berbiak ditandai dengan pembuatan sarang oleh sepasang perkutut yang sedang berahi. Bentuk sarang agak datar dan tipis. Bagian bawah sarang dibuat dari kumpulan ranting yang agak kasar, sedangkan bagian atasnya dilapisi daun rerumputan kering atau serabut yang lebih halus. sarang umumnya diletakkan pada pohon atau semak yang tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah.

Beberapa hari setelah sarang jadi, perkutut betina akan bertelur sebanyak dua butir. Telur ini berwarna putih dengan bentuk oval. Ukuran telur kurang lebih 22 X 17mm. Telur akan dierami secara bergantian oleh kedua induk selama kurang lebih dua minggu, setelah itu telur menetas. Anak perkutut yang baru menetas tampak berwarna merah, tidak mempunyai bulu, dan matanya masih tertutup. Pada saat seperti ini anakan masih memerlukan kehangatan dari tubuh induknya. Oleh karena itu, induk akan mengeraminya sampai tumbuhnya bulu (sekitar umur dua minggu).


Anakan perkutut yang baru menetas oleh induknya diberi makan berupa susu yang dihasilkan oleh tembolok induknya. Proses penyusuan ini berjalan sesuai dengan naluri alamiah burung. Anak yang belum bisa melihat tersebut menyentuh-nyentuhkan paruhnya ke arah mulut induknya. Setelah mengena, anakan tersebut akan memasukkan kepalanya di tenggorokan induknya. Proses inilah yang dinamakan menyusu. Bersamaan masuknya kepala si anak ke tenggorokan induk, si induk akan memuntahkan isi tembolok yang berupa cairan dan langsung masuk ke mulut si anak. Proses penyusuan ini biasanya berlangsung sampai si anak keluar bulu atau sudah bisa terbang.